Menumbuhkan Kampus Kewirausahaan Sosial

FISIP Universitas Indonesia – Upaya dalam menumbuhkan keterlibatan sosial kampus (campus social engagement) meliputi; pemenuhan pelayanan sosial biasa (social service provision) seperti bakti sosial, kemudian aktivisme sosial (social activism) yang dilakukan melalui berbagai kegiatan advokasi untuk membangun tatanan sosial politik baru yang lebih adil yakni dengan perbaikan kebijakan atau aturan-aturan hukum yang berlaku, yang ketiga adalah kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) yang mulai banyak dilakukan melalui program-program sosial yang inovatif yang manfaat nya bisa sekaligus dirasakan oleh masyarakat. Demikian diungkapkan oleh Imam B Prasodjo, Ph.D., dalam paparan Orasi Dies Natalis FISIP UI ke-48, yang diselenggarakan di Auditorium Juwono Sudarsono Kampus UI Depok (1/02) .

 

Tak dapat dipungkiri, dari ketiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi, pilar pengabdian masyarakat tak dapat perhatian yang cukup. Pengabdian masyarakat seolah-olah menjadi tugas sampingan dalam proses pendidikan di kampus. Para dosen hanya dituntut untuk melakukan pengabdian masyarakat maksimal 10% dari seluruh tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Apa yang akan kita alami bila pilar Pengabdian Masyarakat terus menerus diabaikan? Ada dua kekahawatiran diantaranya rasa kepeduliaan sosial yang harusnya tumbuh dalam hati setiap insan kampus akan menjadi tumpul. Kampus akan semakin menjadi “menara gading” karena aktivitasnya terpisahkan jauh dari realita sosial di sekitarnya. Kedua, kampus akan menjadi semakin sulit diharapkan untuk dapat memberi kontribusi kreatif pada penyelesaian masalah-masalah sosial. Inovasi-inovasi sosial yang harusnya tumbuh berkembang dalam program pengabdian masyarakat mengalami stagnasi. Experiential learning untuk mencari model-model mengatasi masalah sosial tersumbat.

 

Bila pola kegiatan sosial tak mengalami perubahan, sulit diharapkan akan tumbuh jiwa kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) dari kampus, karena tak ada ruang untuk melatih jiwa, melatih komitmen untuk bekerja menciptakan gagasan-gagasan penanganan sosial baru, mencoba berfikir out of the box, dan bersemangat mendobrak tatanan ketidakadilan sosial yang tengah berjalan. Dengan memaksimalkna Pengabdian Masyarakat di kampus maka diharapkan sivitas akademika dapat menjadi lebih inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top