SE and Traditional Corporation: Collaboration for Greater Impact

Potensi CSR di Indonesia
Bisnis tradisional dan social enterprise seringkali berada pada dua kutub yang saling berseberangan. Namun, semakin banyak jumlah bisnis tradisional yang bermitra dengan lembaga amal melalui program CSR (17% social enterprise di UK mengandalkan pendapatan dari korporat sebagai yang utama).
Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang baik adalah yang bisa menghilangkan eksternalitas yang dimunculkan oleh proses bisnis. Dengan kata lain, seharusnya CSR menutupi kerugian yang ditimbulkan oleh bisnis dengan cara membuat program CSR yang mendukung pembangunan berkelanjutan kepada masyarakat sekitar. Di sisi lain, upaya pembangunan berkelanjutan juga dilakukan oleh social enterprise. Lalu mengapa masih bekerja sendiri-sendiri?
Titik Temu Kebutuhan Kedua Belah Pihak
Kolaborasi merupakan cara mempertemukan Korporat dengan SE. Kedua belah pihak memiliki kebutuhan masing-masing yang mungkin bisa diselesaikan dengan bermitra dengan pihak lain. Bisa jadi, kolaborasi belum tercipta karena kedua belah pihak belum bertemu dan berkomunikasi satu sama lain. Oleh karena itu, pada Social Entrepreneurship Meet Up #3 Selasa, 26 September 2017, korporat dan social enterprise bertemu dan berdiskusi.
Social enterprise membutuhkan beberapa hal, seperti peningkatan kapasitas dalam hal manajemen bisnis, perluasan akses kepada pasar, dan permodalan untuk mendukung jalannya program. Di sisi lain, korporat mencari beneficiaries yang bisa menerima dana CSR dan butuh untuk meningkatkan awareness terhadap perusahaan.
Penjelasan di atas sejalan dengan penjelasan dari Acumen.org mengenai kolaborasi antara SE dan korporat.
Berikut merupakan beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari kolaborasi kedua belah pihak, yaitu mengarahkan pada:
  1. Pembuatan produk atau jasa baru
  2. Menemukan model bisnis baru
  3. Menemukan kanal pemasaran dan sasaran konsumen baru
  4. Mendapatkan insight dari konsumen
  5. Memperkuat supply chain
  6. Mengembangkan dan meningkatkan engagement karyawan
Mengapa Korporat Tertarik Memberikan CSR kepada SE
Pada Social Enterprise Meet Up 3 hasil kerja sama DBS Bank Indonesia, UnLtd Indonesia, PLUS, dan Impact Hub Jakarta, 26 September 2017 lalu, 3 narasumber dari social enterprise maupun korporasi berbagi mengenai bagaimana mengolaborasikan keduanya. Hadir ada acara tersebut Mona Monica, Head of Group Strategic Marketing and Communication at DBS Indonesia, Steve Saerang, Lead Project Manager at The NextDev Telkomsel, dan Irsan Rajamin, CTO Habibi Garden.
DBS Bank melalui DBS Foundation telah secara aktif mendukung kemajuan social enterprise dengan mengadakan kompetisi, mentorship, funding, dan berbagai program pengembangan lainnya.
Working with social enterprise is like hitting two birds with one stone. Hitting the economy and hitting social impact at the same time,” ucap Mona Monica, Head of Group Strategic Marketing and Communication at DBS Indonesia.
Melalui support yang diberikan kepada sebanyak mungkin social enterprise, secara tidak langsung korporat bisa membantu banyak sektor sekaligus.
Steve Saerang, Lead Project Manager at The NextDev Telkomsel, juga mengemukakan alasannya mendukung bisnis yang memiliki dampak sosial melalui program The NextDev. Beliau melihat adanya tren investasi yang cenderung kepada bisnis yang membantu tercapainya global sustainability.
Beberapa aspek global sustainability yang paling berdampak adalah pada sektor data and technology, sehingga Telkomsel ingin mengambil peran dalam bidang tersebut. Terlebih, dia mengemukakan bahwa program CSR yang berbentuk charity dan strategic philantrophy sudah mulai ditinggalkan, dan beralih ke social innovation endorser. “Making social impact through technology and building digital Indonesia,” adalah hal yang ingin dicapainya.
Salah satu social enterprise yang telah bermitra dengan Telkomsel. Habibi Garden hadir sebagai solusi terhadap masalah pangan di Indonesia. Irsan Rajamin, CTO Habibi Garden, mengemukakan kerja sama dengan korporat sangat memudahkan kerja-kerja mereka. Aplikasi Habibi Garden memungkinkan petani untuk bisa “berkomunikasi” dengan tanaman. Dengan memanfaatkan sensor pada tanaman, semua data mengenai kondisi tanaman dapat dipantau secara real time dan sampai ke ponsel petani dengan bantuan jaringan Telkomsel. Petani lebih mudah mengambil keputusan untuk keberhasilan panennya. Dampaknya, petani dapat meningkatkan kapasitas produksi pangan sebesar 30% karena gagal panen bisa dihindari.
Kolaborasi sangat mungkin dilakukan, asal kedua belah pihak mau mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan satu sama lain dan kemudian tercapai kerja sama yang saling menguntungkan.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top