Insights from ARISE 2017

Awaken and Rediscover Indonesian Social Enterprise (ARISE) yang diadakan oleh UnLtd pada 18 Mei 2017 lalu memberikan banyak sekali insight. Simak ya!

The Rise of Social Enterprises

Sesi pembuka rangkaian acara ARISE ini memperluas pandangan mengenai potensi social enterprises di Indonesia dan di ASEAN. Ari Sutanti (Senior Programme Manager British Council) mengemukakan riset mengenai social enterprises di Indonesia dan Sunit Shrestha (Managing Director Change Fusion) memberikan gambaran besar mengenai posisi social enterprises di Indonesia. Sedangkan, Timotheus Lesmana (Ketua Filantropi Indonesia) menjelaskan bahwa komunitas filantropi di Indonesia pun sekarang sudah mulai menjalankan kerja yang bertanggung jawab di organisasinya masing-masing. Social enterprise di Indonesia dan di ASEAN secara umum harus mengalami perjalanan yang cukup panjang untuk berkembang menjadi bisnis yang sukses. Setelah mengalamai masa inkubasi, social enterprises biasanya akan menghadapi masa-masa yang cukup sulit sebelum akhirnya bisa naik kelas ke tingkat regional atau internasional. Hanya sedikit dari social enterprises yang mampu mencapai hal tersebut.

Hal ini disebabkan oleh peran ekosistem yang mendukung social enterprise untuk berkembang di ASEAN masih belum terlalu terllihat dan tidak semua social enterprise memiliki keinginan untuk memperbesar skala bisnisnya.

Dari penelitian yang dilakukan oleh British Council mengenai bagaimana meningkatkan kapasitas social enterprise di Indonesia, setidaknya ada beberapa kebutuhan mereka yang perlu dipenuhi:

  1. Memfasilitasi kolaborasi dengan semua stakeholder yang terlibat dalam social enterprise
  2. Meningkatkan kapasitas social enterprise dengan menyediakan pelatihan
  3. Memfasilitasi social enterprise dalam menemukan partner
  4. Membuka peluang monetisasi social enterprise
  5. Mengadvokasikan peraturan yang ramah terhadap social enterprise
  6. Memfasilitasi social enterprise untuk bertemu dan berinteraksi dengan konsumen mereka

Sunit juga menekankan, agar social enterprise bisa berkembang dan memberikan dampak sosial yang makin luas, dibutuhkan kolaborasi para katalis di tingkat regional namun tetap memaksimalisasi peran sumber daya lokal.

3P Collaboration to Solve Social Issues

Tumbuhnya social enterprise di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat umum juga bisa berperan dalam menyelesaikan masalah sosial dan/atau lingkungan. Ketika tiga pihak (private, public, dan people) berkolaborasi, dampak sosial yang dimunculkan akan lebih terasa. Setidaknya itulah yang coba disampaikan oleh Agung Hikmat (Tenaga Ahli Muda Kantor Staf Presiden), Wise Citra Dewi (Kasubag TU UP Jakarta Smart City), dan Ivan Tigana (VP Sales & Marketing Qlue Indonesia) pada sesi ini.

Jakarta Smart City menggandeng Qlue untuk memonitor masalah sosial yang ada di Jakarta. Qlue berperan sebagai penjaring laporan dari masyarakat mengenai masalah sosial maupun lingkungan di Jakarta, misalnya: kemacetan, parkir liar, dan sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Laporan dari masyarakat ini diteruskan kepada jejaring Jakarta Smart City di kelurahan di mana laporan tersebut ditemukan, supaya dapat langsung ditindaklajuti.

Itulah contoh kolaborasi yang dapat dilakukan. Di samping itu, KSP dengan berbagai usahanya berupaya untuk mendukung kolaborasi ini, dengan cara mendukung reformasi birokrasi supaya dampak kolaborasi terlihat secara sistemik. KSP juga mengemukakan bahwa pemerintah Indonesia membuka seluas-luasnya masukan dari masyarakat berkaitan dengan hal ini.

RISE Inc. Demo Session

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 14 social enterprise peserta inkubasi Rise Inc. Cohort 3 yang dilaksanakan oleh UnLtd dan didukung oleh KOMPAK. Mereka adalah: Mycotech, GandengTangan, KSU Muara Baimbai, Crowde, Yourgood, Fingertalk, Heart of Spora, Nusa Berdaya, Eduventure, TEMU, Karsa, Wecare.id, Environmental Education Center (EEC), dan G-Stalker. Selama satu tahun sebelumnya, UnLtd telah memberikan pelatihan dan pendampingan secara intensif kepada social enterprise ini dalam hal pengembangan bisnis. Pada sesi ini, mereka mempresentasikan social enterprise mereka di depan juri yaitu Fadjar Hutomo (Deputy of Financial Access, Indonesian Agency for Creative Economy), Davud Soukhasing (Head of ANGIN), Amir Karimuddin (Editor in Chief Daily Social) dan berkesempatan mendapatkan funding untuk 2 social enterprises senilai masing-masing AUD 15.000.  Masing-masing social enterprise memiliki keunggulan dan cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan.

Dari 14 social enterprise tersebut, terpilihlah TEMU (aplikasi marketplace yang mempertemukan pencari kerja dari kalangan ekonomi bawah dengan pihak-pihak yang sedang membutuhkan tenaga kerja) dan Fingertalk (penyedia lapangan pekerjaan bagi penyandang tuna rungu di Indonesia) sebagai pemenang dan berhak mendapatkan funding dari Pemerintah Australia melalui program KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan). Congratulation!

Different Stage, Different Money Workshop

Pada sesi kali ini, semua peserta yang hadir dari berbagai ekosistem kewirausahaan sosial, yakni: social entrepreneurs, perwakilan pemerintahan, organisasi pendukung social enterprise berkesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dengan dibagi berdasarkan di stage mana social entrepreneurship berada, peserta dapat berdiskusi dan saling bertukar pikiran mengenai tantangan, harapan dan support yang sudah di dapatkan, Fajar Anugerah (Managing Partner of PT Kinara Nusantara), Helga Angelina (Co-founder & Managing Director Burgreens), Jamil Abbas (General Manager of PBMT Social Ventures), Adi Sudewa (Senior Investment Manager Aavishkaar) menjadi fasilitator dalam sesi ini.

SE & Beyond: Ultimately Indonesia

Sebagai sesi terakhir, sesi ini berfungsi sebagai penutup dan kesimpulan dari semua rangkaian acara ARISE 2017. Junerosano (Founder Greeneration Indonesia), menyatakan bahwa untuk berkembang, jelas bahwa social enterprise tidak bisa sendirian. Mereka membutuhkan partnership yang kuat dengan para pebisnis yang telah terjun di dunia tersebut sebelumnya, investor, ataupun social enterprise lain. “Get connected is the key,” ungkap Dian Hasan (Co-Founder Impact Hub Jakarta). Begitu pula diungkapkan oleh Kaitlin Shilling (Director of Platform Usaha Sosial), memaksimalkan partner, resource, dan teknologi yang ada akan sangat membantu dalam membuat bisnis yang sustainable dan memperbesar impact terhadap problem sosial atau lingkungan. Tidak perlu semua orang berlomba membuat aplikasi ini itu dengan usaha sendiri, pebisnis bisa mengajak orang lain yang memiliki ide serupa untuk berkolaborasi. Sekarang ini di Indonesia mulai berkembang kepedulian terhadap bagaimana bisa mengembangkan kapasitas social enterprise.

Jadi, siap untuk berkolaborasi?

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top