It’s about the change that you can make: Inclusive Islands Bootcamp Recap

Artikel ini ditulis oleh: Muammarafi Thufail – PLUS Project Intern (July 2019)

Bagaimana jika 20 orang dengan berbagai macam perbedaan dikumpulkan dalam satu momen? Pastilah perlu penyesuaian, tetapi, banyak cerita yang dapat digali dari momen tersebut. Kali ini, PLUS, bekerjasama dengan British Council telah mengumpulkan sebanyak 20 wirausahawan sosial dari 5 kota di Indonesia dalam program Developing Inclusive and Creative Economy (DICE). Program DICE diawali dengan leadership bootcamp selama 5 hari yang diisi oleh fasilitator dari Social Enterprise Academy, Skotlandia. Acara yang bertajuk Inclusive Islands ini akan memberikan kesempatan bagi para wirausahawan sosial terpilih untuk belajar tentang materi kepemimpinan, kerjasama tim, serta mendapatkan informasi dari panelis yang bergerak  di dunia usaha sosial. 

Pada tanggal 30 Juni kemarin, para peserta dari Medan, Padang, Pontianak, Makassar, dan Jayapura telah hadir di Jakarta. Rangkaian kegiatan dimulai dengan perkenalan yang dikemas dalam bentuk amazing race yang diadakan di Gelora Bung Karno, Senayan. Para partisipan memiliki serangkaian misi di beberapa pos dan harus memecahkan tantangan yang diberikan. Para partisipan mulai membaur satu sama lain pada kegiatan ini, tawa dan canda tak terelakkan muncul saat mereka harus bekerjasama dalam menyelesaikan tantangan. 

Acara di hari pertama dilanjutkan dengan sesi makan malam dan perkenalan singkat dari PLUS. Dalam sesi ini juga terdapat perkenalan Anne Martin dan Jess Kemp, fasilitator yang datang langsung dari Skotlandia untuk memfasilitasi proses belajar para partisipan. Perbedaan bahasa dan kultur tidak mempersulit Anne dan Jess untuk bergabung dengan para peserta, acara pun ditutup dengan tarian yang diperkenalkan oleh Anne untuk mencairkan suasana. 

 

 

 

Hari Pertama: Mari berkenalan!
Kegiatan di hari pertama dibuka dengan perkenalan secara lengkap dari tim PLUS serta dilanjutkan dengan sesi penjelasan tentang program yang dibawakan oleh Anne Martin. Pada sesi ini, Anne memulai program dengan membangun kesepakatan antara peserta dan menyaring harapan serta ekspektasi yang partisipan harapkan setelah mengakhiri program ini. Tak lupa, Anne juga mengeksplorasi tentang asal daerah masing-masing partisipan dengan bertanya tentang tempat belajar paling penting kepada seluruh partisipan. 

Selain Anne dan Jess, turut hadir pula Sam Baumber dan Nazia selaku perwakilan dari SEA. Mereka berdua menjelaskan tentang gambaran usaha sosial di Skotlandia secara singkat dan memperkenalkan tujuan dari SEA. Setelahnya, partisipan dibawa oleh Anne untuk menyepakati kontrak program, yaitu apa yang harus dilakukan oleh peserta untuk membangun suasana pembelajaran yang aman dan efektif. 

Setelah makan siang, mata acara program dimulai dengan sesi menjadi pendengar yang aktif. Sesi ini berupa simulasi diskusi berpasangan oleh para partisipan, untuk menceritakan tentang wirausaha sosial yang mereka jalankan. Pasangan berbicara harus mendengarkan dan memahami apa yang dijelaskan oleh lawan bicaranya. Program ini bertujuan untuk melatih partisipan untuk menyerap informasi yang baik dalam proses komunikasi dan membangun rasa hormat kepada lawan bicaranya. 

Sesi terakhir, Anne membawakan sesi tentang mencari tipe kepribadian. Anne memberikan kesempatan bagi para partisipan dan panitia untuk memilih satu dari empat bentuk dan warna yang disediakan di 4 penjuru ruangan. Ternyata, masing masing bentuk merepresentasikan bentuk kepribadian yang berbeda-beda. Di akhir sesi, partisipan belajar tentang pola kepribadian dan cara kerja yang selama ini dirasakan oleh masing-masing individu, dan bagaimana cara untuk bekerjasama dengan individu dengan tipe kepribadian yang berbeda. 

Hari Kedua: Pelajari Asal Usulmu 

Di hari kedua, partisipan telah siap dengan berbagai macam aksesoris tentang kebudayaan dari daerah mereka masing-masing. Ada yang membawa baju adat, aksesoris daerah, atau makanan khas daerah setempat. Masing-masing partisipan berkesempatan untuk menceritakan tentang masing-masing benda tersebut dan keterkaitannya dengan kebudayaan dari daerah masing-masing. 

Setelah Anne menutup sesi fasilitasinya, PLUS mendatangkan Jalal, seorang pakar tentang kewirausahaan sosial di Indonesia. Dia merupakan Ketua dari Social Investment Indonesia, sebuah wirausaha sosial yang bergerak untuk membantuk proses pemetaan stakeholder serta pembelajaran tentang tanggung jawab sosial perusahaan dan pembangunan yang berkelanjutan. Sesi ini memberikan kesempatan bagi partisipan untuk bertanya lebih jauh tentang pengelolaan wirausaha sosial dan bagaimana membangun usaha yang dapat memberikan dampak bagi sekitar. 

Hari kedua ditutup dengan kesempatan bagi peserta untuk menikmati makanan khas Indonesia di restoran Loro Jonggrang, para partisipian menikmati waktu bercengkrama di sesi makan malam dengan suasana restoran yang antik dan dipenuhi oleh barang-barang yang bersejarah. 

Hari Ketiga: Berpetualang di Jantung Kota Jakarta 

Tidak hanya berkegiatan di dalam ruangan, tim PLUS juga berkesempatan untuk mengajak partisipan untuk melihat titik-titik yang bersejarah dan ramai di Ibukota. Di hari ketiga, partisipan diajak untuk berkegiatan di lapangan Banteng untuk saling berdiskusi terkait dengan strength, weakness, opportunity, dan threat yang mereka rasakan selama menjalankan usaha. Seluruh partisipan dibagi kedalam 3 kelompok berdasarkan sektor usaha di bidang mereka. 

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan kesempatan untuk mengunjungi 3 tempat pariwisata di pusat kota Jakarta. Partisipan diajak untuk melihat simbol toleransi dari Jakarta, yaitu Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang dibangun bersebrangan, sebagai tanda heterogenitas agama di Indonesia dan simbol kemajemukan masyarakat Indonesia. Partisipan diberikan kesempatan untuk mengelilingi dua tempat ibadah tersebut dan mengambil foto. Tidak ketinggalan, partisipan kemudian mengunjungi Monumen Nasional (Monas) yang berada tepat di jantung Ibukota. PLUS dan partisipan menikmati ramainya suasana Monas di malam hari dengan kilauan lampu dan emas di puncaknya. Tak lupa, partisipan diajak untuk menyantap hidangan makan malam dengan suasana pasar malam di Lenggang Jakarta, yang terletak didalam kompleks Monumen Nasional. 

Hari Keempat: Berbagi dengan Panelis 

Partisipan kedatangan tamu spesial di hari yang keempat. PLUS mengundang 4 orang pakar yang telah beraktifitas di bidang kewirausahaan sosial. Latar belakang mereka berbeda, dari mulai akademisi, praktisi hukum, pengelola lembaga internasional hingga pengusaha, yang akan memberikan khazanah informasi yang diperlukan bagi pengembangan usaha partisipan di daerah. Keempat narasumber di sesi panel ialah William Hendradjaja, Co-Founder SIAP, Louise Patricia Esmeralda, Founder Sokolas, Dewi Meisari, Dosen pada FEB UI, dan Emma Yunita, Programme Manager British Council. 

Pada sesi ini, para panelis memperkenalkan setiap organisasi yang sedang mereka jalankan, dan bagaimana lansekap wirausaha sosial di Indonesia saat ini dari berbagai macam perspektif, hukum, ekonomi, sistem, dan organisasi pendukung. Partisipan aktif dalam menjelaskan tentang usaha mereka dan hambatan yang mereka temui, seperti yang disampaikan Deman, salah satu partisipan dari Pontianak tentang perizinan produk yang diproduksi olehnya. 

Tidak hanya sesi dari panel, Anne Martin kembali membawakan sesi fasilitasi dengan tema teori Maslow dan Chimp Paradox, dua teori yang menjadi basis dari pengambilan keputusan dari manusia serta bagaimana manusia bertindak. Partisipan diajak untuk bagaimana mengendalikan sifat manusia yang seringkali mengambil keputusan yang irasional dan tanpa pertimbangan yang matang karena menggunakan perasaan. Partisipan juga diajak untuk berfikir kritis tentang stratifikasi kebutuhan manusia untuk mendorong manusia dapat bekerja secara maksimal. 

Hari Kelima: Saatnya Menutup rangkaian ini 

Di hari terakhir, Anne kembali mengadakan aktivitas yang memberikan kesempatan bagi para peserta untuk saling berkoneksi satu sama lain. Anne mengadakan sesi untuk mengenal kemampuan dan keahlian dari masing-masing peserta dengan metode membentuk jejaring dari benang wol. Dengan model ini, para partisipan dapat mengetahui kemampuan dirinya dan partisipan lainnya, sehingga, harapannya antar partisipan dapat saling berbagi dan belajar kemampuan baru. Untuk memperkuat proses belajar, Anne memberikan kesempatan bagi para partisipan untuk saling berdiskusi berpasangan, bagaimana meningkatkan keahlian di masing-masing bidangnya. 

Setelah makan siang, PLUS mengadakan sesi diskusi antar kota. Diskusi ini bertujuan sebagai kesempatan bagi masing-masing wirausaha sosial untuk menceritakan rencana konkret dari masing-masing usaha. Masing-masing wirausaha saling berdiskusi untuk memperkuat rencana mereka. Tidak hanya itu, masing-masing kota juga merencanakan rencana selanjutnya untuk memperkuat komunitas wirausaha sosial di masing-masing kota. Tim PLUS juga ikut serta sebagai fasilitator dalam diskusi tersebut agar dapat menghasilkan rencana yang mampu mendorong tumbuhnya komunitas dan menarik wirausaha sosial lainnya di kota-kota di Indonesia. 

Hari terakhir ditutup dengan sesi refleksi dari seluruh rangkaian kegiatan yang dipandu oleh Anne Martin. Anne memicu partisipan untuk menceritakan rencana yang akan dilakukan oleh partisipan sekembalinya ke daerah masing-masing bersama dengan usaha yang mereka sedang jalankan. Terakhir, para partisipan tidak lupa untuk berfoto bersama dan saling mengucap kata perpisahan dan kesan pesan saat makan malam. 

Inclusive Islands di Mata Partisipan dan Panitia 

Program bootcamp di Jakarta ini membawa kesan pesan tersendiri bagi para partisipan. Menurut Feli, partisipan dari Pontianak, program bootcamp ini menyenangkan karena diluar dari ekspektasinya. “Menurutku, programnya asik karena memberikan proses pembelajaran yang interaktif” ujarnya. Sedangkan menurut Taufan, peserta dari Makassar menyebutkan bahwa 

Tidak hanya itu, Feli juga menyebutkan bahwa bagian yang paling menarik selama kegiatan bootcamp yaitu ketika ada sesi refleksi. Jarang sekali seminar atau pelatihan memberikan waktu untuk berfikir tentang proses pembelajaran yang telah dilalui. Hal ini memberikan kesempatan bagi dirinya untuk memikirkan tentang perjalanan usaha yang sedang dirintisnya. 

Terakhir, Feli merasa terbantu dengan kegiatan ini bisa memberikan kesempatan untuk dirinya belajar tentang isu kewirausahaan sosial. Dirinya bisa belajar dari berbagai usaha sosial yang lahir di berbagai daerah. “Menarik sekali bisa berbagi dan menganalisis isu tentang usaha sosial yang ternyata tidak berbeda jauh antar usaha, sehingga bisa menambah motivasi untuk belajar” ujarnya. 

Selain Feli, Taufan, partisipan dari Makassar memiliki pendapat lain. Menurutnya, hal yang berkesan dari program inclusive island yaitu saat bertemu dengan para partisipan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan ini memberikan wadah bagi antara wirausahawan sosial untuk saling bertukar informasi. Harapannya, Setelah program Inclusive Islands, ilmu yang didapatkan selama program bisa diimplementasikan kepada masyarakat. Taufan menambahkan, hal yang menarik selama program yaitu bisa mencoba salah satu moda transportasi baru di Jakarta. “Iya kak, pengalaman paling menarik yaitu saat pertama kali coba MRT”. 

Klik dibawah untuk menonton video recap bootcamp: 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top