Irvan Kolonas, Bapak Asuh Petani Jagung

Swa – Aldrian Irvan Kolonas tak betah mengemban amanah memimpin divisi investasi dan pengembangan bisnis di perusahaan milik sang ayah, Hendrick Kolonas. Hatinya tergerak membangun bisnis sosial setelah membaca buku karangan Moh. Yunus. Di usia yang masih sangat belia, 16 tahun, Kolonas Jr. sudah tertarik dengan ide microfinance, bisnis yang juga memiliki misi sosial.

 

“Moh Yunus menilai upaya sosial yang dibangun lewat organisasi yang berbentuk yayasan tidak efektif. Bantuan kadang tidak berkelanjutan, tidak tepat sasaran, dan tidak berskala alisa tidak bertumbuh. Segitu-segitu saja,” katanya.

 

Ia pun bertekad mengawinkan bisnis dan misi sosial saat mendirikan Vasham Kosa Sejahtera. Dalam pandangannya, bisnis sosial itu harus selalu bisa mencari modal, menghasilkan keuntungan, dan bisa ditumbuhkembangkan, berkelanjutan. Keuntungan digunakan untuk inovasi dan ekspansi usaha. Yang tidak kalah penting adalah harus akuntabel untuk dampak sosialnya. Dengan kata lain, semuanya jelas, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan.

 

“Jadi, kami tidak hanya bicara bagaimana meningkatkan sales, menurunkan cost, dan mengantongi profit semata,” katanya.

 

Lalu, kenapa petani? Petani di Indonesia dari dulu sampai sekarang masih sama, yakni terjerat tengkulang, pengijon, dan lainnya karena terbentur modal dan akses pasar. Ini juga yang menurutnya menjadi penyebab sampai hari ini Indonesia tak pernah bisa mencapai swasembada pangan.

 

Lulusan Political Science, USC (University of Southern California) Los Angeles tahun 2010 itu sampai harus turun langsung ke lapangan, mencari tahu apa saja kesulitan petani sejak mulai menanam hingga tiba masa panen dan menjual hasilnya. Dari segi luas lahan, para petani kecil (gurem) ini hanya punya lahan seluas 0,25 hektare, jauh lebih kecil daripada luas lahan milik petani di Myanmar yang minimum 2 hektare per orang.

 

“Dari sana, saya mulai memetakan persoalan mereka. Pendapatannya sangat rendah, sedangkan resikonya sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang tidak punya pilihan lain selain menjadi petani,” ia menambahkan.

 

Ternyata, ada tiga masalah utama. Pertama, modal dalam bentuk saprotan (sarana produksi pertanian) dan untuk biaya operasional dari masa tanam hingga pasca panen. Kedua, pelatihan dan pendampingan tentang praktik bercocok tanam yang baik dan benar.

 

Ketiga, akses pasar karena petani tidak bisa menjual langsung dan mendapat harga yang paling tinggi. Di Indonesia, nature agribisnis itu rantai pasoknya panjang karena tengkulaknya berlapis-lapis hingga ke tangan pengguna produk. “Jadi antara modal dan jual ke tengkulak ternyata kait mengait, dengan kata lain petani “terjebak” di situ,” katanya.

 

Semua petani, mulai dari jagung, beras, singkong, dan tanaman pangan lain sama masalahnya. Jagung akhirnya terpilih sebagai obyek bisnis sosial yang pertama dan Lampung terpilih sebagai salah satu sentra produksi Jagung di Indonesia. Irvan Kolonas dan tim bergerak cepat membangun model bisnis yang tepat, yakni bagi hasil 90:10, 90% untuk petani dan sisanya perusahaan.

 

Tujuannya,  agar mereka sejajar dengan petani. Jika performa petani sedang baik atau buruk hasilnya, ditanggung bersama. Inilah esensi utama wirausaha sosial. “Yang sudah berhasil dinamakan program Konco. Bundling, di dalamnya ada fasilitas modal, pelatihan, dan pengawasan, serta akses pasar langsung ke pabrik pakan milik Japfa Comfeed yang ada di Lampung,” katanya.

 

Bisnis sosial Vasham Kosa Sejahtera cukup berhasil. Awalnya, petani yang mau bergabung hanya 100 orang. Kini, jumlahnya sudah 3.000 orang. Rata-rata, hasil panen mereka meningkat 70%. Sehingga, pendapatan mereka paling kecil sudah masuk UMP Propinsi Lampung. “Target kami adalah petani kecil yang sulit mengakses modal apalagi pasar. Rencananya, ke depan, kami bisa menggandeng 200 ribu petani dengan 200 ribu hektar lahannya,” kata dia.

 

Irvan Kolonas masih punya mimpi besar, yakni membantu para petani padi, singkong, kedelai, dan peternak sapi. Selanjutnya, Vasham Kosa Sejahtera juga ingin membantu petani jagung di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta Sulawesi Selatan. “Rencana kami adalah masuk ke seluruh Indonesia dan fokus di petani pangan,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top