Does Social Entrepreneurship Label Matter?

Social entrepreneurship saat ini mendapatkan perhatian yang cukup banyak dari berbagai pihak di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya popularitas social entrepreneurship, apakah ada keuntungan yang bisa didapat dengan menjadi usaha sebagai social enterprise? Mari dengar dari beberapa pihak yang bermain dalam ekosistem social entrepreneurship di Indonesia. Berikut dirangkum Q&A dari ahli dalam urusan legal oleh Gita dari Socolas, inkubator oleh Romy dari UnLtd Indonesia, enabler oleh PLUS, dan dari social enterprise itu sendiri oleh Gigih dari WeCare.id.

 

“So, penting ga sih mengategorikan usaha kita sebagai usaha sosial atau bukan?”

Menurut Gita, social enterprise sebagai label tidak selamanya dibutuhkan mutlak. Yang perlu dihayati adalah keinginan untuk memiliki dampak dalam penyelesaian masalah sosial secara konkret dengan menggunakan model usaha sehingga tidak selamanya tergantung dengan bantuan hibah atau sponsor.

 

Dari perspektif inkubator, Romy menyatakan bahwa perlu tidaknya menyebut diri sebagai social enterprise tergantung tujuan kita. Social enterprise yang sering kita dengar akhir-akhir ini sebenarnya adalah label, sedangkan konsep social enterprise dari dulu sudah ada. Nanti ke depannya juga akan terus ada dalam beragam bentuk. Salah satu wirausaha sosial yang paling awal di Indonesia adalah Muhammadiyah yang didirikan 1912. Sudah lebih dari seratus tahun umurnya, namun Muhammadiyah belum pernah menyebut diri sebagai social enterprise. Lihat riset di tautan ini dan ini untuk penjelasan mengapa Muhammadiyah bisa digolongkan sebagai wirausaha sosial. Yang lebih penting adalah kita sendiri merasa sebagai social enterprise atau tidak. 
 

Di Indonesia saat ini tidak ada manfaat khusus kalau menyebut diri sebagai wirausaha sosial. Tidak ada insentif pemerintah, misalnya, untuk wirausaha sosial. Untuk investor yang khusus ingin investasi di wirausaha sosial penting bagi mereka untuk tahu kita serius sebagai wirausaha sosial, misalnya dengan melacak social impact yang diciptakan, dan menginvestasikan profit untuk meningkatkan social impact. Tapi mereka tidak peduli apakah kita menyebut diri social enterprise atau nggak. 
It’s just a label.

 

Dari perspektif investor oleh Ria dari ANGIN, self-claimed classification as a social enterprise tidaklah cukup. Impact investor pasti akan masih mengecek apakah business model company tersebut memang memberikan benefit kepada bottom of pyramid, atau memberikan manfaat sosial atau tidak. Banyak yang menganggap diri mereka social enterprise, tetapi business model dan use of proceeds-nya tidak merepresentasikan demikian. “Pastinya membantu bagi impact investor untuk mengenal kalian lebih lanjut ketika kalian menyebut company kalian social enterprise, but it does not mean you are a social enterprise,” jelas Ria.

 

Di sisi lain, menurut PLUS, Social Enterprise itu lebih kepada caranya, tetapi tujuan utamanya tetap misi sosial. Social Entrepreneurship bisa menjadi framework, landasan, guideline, atau cara bagi para enterpreneur, baik techpreneur, sociopreneur atau apapun judul entrepreneur-nya, supaya bisnis yang dilakukan bisa sustainable, di mana salah satunya adalah dengan memperhatikan konsekuensi dari setiap strategi bisnis kita bagi masyarakat dan lingkungan.

 

“Apakah benar saat mendirikan SE, harus melakukan semuanya sendirian?”

Makin ke sini, makin banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap perkembangan social enterprise. Gita dengan Socolas, misalnya. Socolas pada intinya berniat memberikan bantuan untuk (i) wirausaha sosial, (ii) usaha mikro, kecil dan menengah di lokasi terpencil dan (iii) inisiatif sosial. Kami menawarkan bantuan dengan tiga upaya (i) konsultasi dan pendampingan online (via email atau platform), (ii) SocoTalk yang membahas isu terkini yang relevan dari perspektif legal dan (iii) SocoMeetUp yang merupakan klinik offline setiap 2-3 sebulan. SE yang pernah dibantu oleh Socolas misalnya dalam hal memilih badan usaha untuk SE mereka, dengan mempertimbangkan skema tanggungjawab + keterkaitan harta, pendapatan yang direncanakan, pengambilan keputusan, dan struktur organisasi. Kebutuhan legal adalah salah satu ‘urusan dapur’ yang mesti menjadi pondasi utama. Idealnya teman-teman social enterpreneurs yang beritikad baik untuk selesaikan masalah sosial harus dapat support system yang kuat untuk pastikan ‘urusan dapur’ mereka beres dan aman.

So, being SE is not a lonely job. Ready to be one?

Diskusi lengkap mengenai ini dapat dilihat di link ini. Mulai diskusimu sekarang!

Tinggalkan Komentar

Stay Updated

Get the latest update about Indonesia Impact Community. Subscribe to our weekly newsletter now!
Scroll to Top