“My dream, one day, all business is a social business” – Stephanie Hermawan

Untuk berkembang, kewirausahaan sosial di Indonesia membutuhkan dukungan dari banyak pihak, tidak bisa sendirian. Namun, ekosistem yang mendukung kewirausahaan sosial di Indonesia, seperti ketersediaan mentor, coach, ataupun event masih terfokus di kota-kota besar, khususnya di Jakarta. Tak heran, banyak social entrepreneurs di luar Jakarta dan sekitarnya yang cukup kesulitan mencari sumber daya untuk mengembangkan bisnisnya.

Keinginan terbesar PLUS adalah membantu social enterprise di seluruh Indonesia untuk berkembang. Pada 17 Mei 2017 lalu, melalui kolaborasi dengan Atamerica, PLUS mengadakan Online Roadshow bertema Social Business Model Clinic. Melalui teknologi live streaming ke American Corner Universitas Airlangga Surabaya, social entrepreneurs di Surabaya bisa belajar dan mendapatkan expert coaching dari business coaches sekelas Stephanie Hermawan (Angel Investor di ANGIN) dan Adryan Hafizh (Kolaborasi.co).

Setelah melewati proses review oleh tim PLUS, 7 perwakilan dari social enterprise di Surabaya dan Jakarta berkesempatan untuk mempresentasikan model bisnisnya supaya bisa diberi feedback oleh ahlinya. 7 social enterprise tersebut adalah:

  1. Egritech.com, marketplace yang mempertemukan inovasi produk lokal di bidang energy, agriculture, dan teknologi dengan masyarakat

  2. Energinesia, penyedia biogas portable dari limbah peternakan sapi untuk penggunaan sehari-hari warga di daerah pedesaan

  3. Candradimuka, program hard skill dan soft skill training untuk kaum difabel supaya memiliki keterampilan yang cukup untuk bekerja

  4. Food Harbor Indonesia, social enterprise berfokus pada isu sisa makanan dengan mempromosikan hidup sehat

  5. Surabaya Sehat, dengan kegiatan Pasar Sehat dan Kelas Sehat, mempertemukan provider makanan sehat dengan konsumen

  6. Bagi Rasa, penyedia jasa food tasting untuk perusahaan makanan dengan membagikan makanan pada orang-orang yang bekerja untuk komunitas

  7. Pemberdaya Muda, program untuk anak muda yang ingin menghabiskan liburan dengan bertukar ide, budaya, serta cara hidup dengan masyarakat di daerah 3T

Dengan isu sosial dan/atau lingkungan yang mereka bawa, setiap bisnis sosial memiliki tantangan dan kelebihan masing-masing. Semua social enterprise yang terpilih masih berada pada tahap-tahap awal pengembangan usaha. Bertemu dengan Stephanie dan Adryan sebagai business coach yang sudah terlebih dahulu terjun dalam dunia bisnis professional memberikan pemahaman baru, peluang kolaborasi, dan masukan yang tidak terpikir sebelumnya. Tak jarang, feedback dari Stephanie dan Adryan membuat mereka berpikir ulang dalam menentukan langkah selanjutnya dalam bisnis. Kami mencoba merangkum beberapa insight yang didapat dari coaches maupun dari social enterprise di sini!

Saat memulai usaha, bisa jadi pebisnis sosial mengalami hal berikut: ingin menyelesaikan banyak sekali masalah di komunitas yang ingin dibantu, tidak memiliki target yang jelas, dan kurang memikirkan sisi bisnis dengan serius. Hal ini wajar terjadi karena di dalam social entrepreneurship¸ tidak hanya konsumen yang menjadi fokus utama, namun juga komunitas penerima manfaat. Bukan berarti karena ada kata “sosial”, social enterprise tidak boleh mencari profit, melainkan harus memikirkan juga bagaimana agar bisnis sosial dapat berjalan dengan sustainable supaya bisa memberikan manfaat yang besar pada komunitas. Seperti yang diungkapkan oleh Stephanie, “Money is not evil, money is just an energy”. Setidaknya, founder harus berkeinginan kuat untuk mendapatkan penghasilan dari bisnis sosial, tidak hanya mengandalkan dari grant, donasi, atau iuran anggota.

Untuk mendapatkan penghasilan, social enterprise harus memiliki produk atau jasa yang jelas. Cara terbaik untuk membuat produk yang tepat sasaran adalah dengan memperbanyak interaksi dengan calon konsumen dan komunitas penerima manfaat. Buka sebanyak mungkin peluang di mana produk atau jasa kita bisa digunakan oleh orang lain. Menurut Stephanie dan Adryan, beberapa pertanyaan yang perlu diperhatikan dalam menentukan produk atau jasa:

  1. Apakah produk atau jasa sudah menyelesaikan masalah konsumen dan komunitas dengan tepat sasaran?

  2. Masalah apa yang ingin diselesaikan terlebih dahulu?

  3. Apa yang membedakan bisnis yang kita lakukan dengan bisnis-bisnis lainnya?

Dengan begitu, produk atau jasa yang ditawarkan bisa lebih terfokus dan bisa mengetahui profil customer yang lebih clear. Fokus dibutuhkan agar lebih mudah dalam menjelaskan bisnis kepada orang lain, mendapatkan support dari pihak-pihak yang relevan, dan juga mempermudah tim secara internal. “Menjelaskan bisnismu kepada orang lain dengan sesederhana mungkin adalah hal yang sangat penting dalam berbisnis,” ungkap Adryan.

Terkadang pula, saat pebisnis mulai bertanya kepada audience yang lebih luas, ternyata produk atau jasa yang kita rancang di awal tidak terlalu menguntungkan atau tidak secara efektif menyelesaikan masalah. Saat terjadi hal tersebut, jangan khawatir untuk mengubah strategi bisnis namun masih dalam sektor yang sama. Change is inevitable, jadi jangan takut untuk berubah kalau memang strateginya belum berhasil. Setelah itu, jangan lupa diikuti dengan menentukan target dan deadline yang jelas dalam setiap perubahan proses bisnis yang dilakukan.

Ingin merasakan sendiri bagaimana presentasi dan mendapatkan feedback dari expert coach? Untuk selanjutnya, kami akan live streaming ke American Corner Universitas Tanjungpura, Pontianak, tanggal 6 Juni 2017. Jadi, kalau kamu punya social enterprise yang berbasis di Jakarta atau Pontianak dan ingin social business model-mu diberi feedback, daftarkan usahamu sekarang juga di bit.ly/OnlineRoadshow-Pontianak 
Share:

Tags: Social Enterpreneurship