Mungkin hanya cinta terhadap seni, alam, dan budaya dan determinasi kuat yang bisa membuat tiga perempuan muda dengan nekat menjelajah pulau-pulau terdepan Indonesia tanpa banyak pikir panjang. Mereka menjelajah pulau di wilayah timur Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Barat, bukan hanya untuk liburan, namun untuk melakukan sesuatu yang membawa dampak sosial bagi masyarakat dan tentunya bagi diri mereka sendiri. 40 hari perjalanan cukup untuk membuat mereka jatuh cinta pada warna-warna dan desain kain tenun yang dibuat dengan terampil oleh warga di Watubo dan Watublapi, Nusa Tenggara Timur. Menenun telah menjadi kegiatan sehari-hari warga di sana. Sayangnya, pikir mereka, tidak banyak kain tenun yang sampai pada konsumen di kota. Salah satunya karena kain tenun selama ini tidak dapat digunakan dalam banyak kegiatan anak-anak muda. Mereka ingin lebih banyak anak muda yang mencintai kearifan lokal Indonesia. Tiga perempuan ini kemudian bertekad untuk menyebarkan kecantikan kain tenun melalui berbagai produk-produk yang dapat dinikmati oleh anak muda di Indonesia.


Tiga perempuan tersebut adalah Cendy Mirnaz, Annisa Hendrato, dan Shinta Uli yang saat ini mendirikan Noesa. Noesa berusaha untuk menyebarluaskan produk tenun tanpa mengurangi atau mengubah filosofi di balik motif-motif tenun lokal. Selama kurang lebih 3 bulan setelahnya, mereka banyak belajar dari warga lokal mengenai pewarnaan, pola, dan berbagai proses pembuatan kain tenun. Proses pengenalan terhadap tenun dan proses pembuatan oleh warga lokal memiliki andil besar dalam perkembangan produk Noesa selanjutnya. Melalui pendekatan yang asertif dan tidak memaksa, Noesa bisa meraih hati warga lokal dan mengajak mereka untuk bekerja sama. Setelah mendapatkan perhatian warga, barulah Noesa berani untuk membawa kain tenun menjadi produk yang lebih kasual sehingga cocok dipakai oleh target pasar Noesa: anak muda, hipster, dengan daya beli tinggi. Lahirlah produk sehari-hari yang dekat dengan anak muda seperti tali kamera, tas, topi, pakaian, dompet, kalung, gelang dengan corak tenun.
 

Keinginan Noesa untuk menyebarkan keindahan tenun tidak hanya berhenti sampai di penjualan produk saja. Noesa ingin anak-anak muda bertemu langsung dengan produsen tenun lokal. Plewo Doi, Orinila adalah beberapa proyek yang mereka lakukan untuk meningkatkan awareness anak muda tentang sustainability dalam art, nature, dan culture. Di Plewo Doi, Noesa mengajak warga lokal pergi ke Jakarta, mengadakan talkshow, pameran, dan praktik pembuatan produk tenun. Sedangkan di Orinila (artinya Rumah Warna), Noesa mengajak anak muda berkunjung ke Watubo untuk merasakan sendiri bagaimana proses pembuatan tenun berlangsung. Segala media mereka manfaatkan untuk bercerita mengenai tenun di Nusa Tenggara Timur. Dengan cara tersebut, Noesa bisa mengajak anak-anak muda ini untuk ikut meningkatkan kesejahteraan kelompok penenun di Nusa Tenggara Timur.


Pada 6 Juni 2017 lalu, Cendy, Nisa, dan Shinta berkesempatan untuk berbagi pengalaman mereka kepada audience di Business + Good Stories, acara kolaborasi antara PLUS dan @America. Beberapa pertanyaan yang menarik terangkum dalam ulasan di bawah ini.


Q: “What is the first thing to do to start a social enterprise?”

A: “Kami selalu memulai dengan menentukan tujuan kami, lalu baru kemudian diturunkan menjadi action plan yang jelas. Hal penting lainnya adalah tidak menunggu. Di awal proses pembentukan, kami tidak menunggu ada yang mendukung. Just do it.”


Q: “Bagaimana menghadapi warga lokal yang keras kepala saat Noesa memperkenalkan idenya?”

A: “Jangan ikut keras kepala. Biasakan banyak bertanya dan dengarkan mereka terlebih dahulu. Di awal, kami tinggal bersama mereka dan emnganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Kami tidak langsung membahas pekerjaan, namun memulai dengan membahas yang lain baru kemudian pelan-pelan masuk ke pekerjaan. Begitu pula saat akhirnya mereka sudah bersedia bekerja dengan kami, kami yang mengikuti pace kerja mereka.”


Q: “Tim Noesa tampak begitu kompak. Bagaimana, sih, rahasianya?”

A: “Membangun komunikasi yang baik itu penting. Kami biasa menggunakan brainstorming dalam menentukan keputusan apapun yang akan kami ambil sehingga kami bisa mendengar pendapat dari masing-masing anggota tim.”


Q: “Bagaimana strategi pendanaan di awal pendirian Noesa?”

A: “Kuncinya perbanyak teman. Dulu di awal kami masih mengumpulkan dari teman dan keluarga. Saat itu kami melupakan sejenak hidup enak yang kami lakukan di Jakarta. Selanjutnya, Noesa mulai mengandalkan revenue, dan uang produksi selalu diputar untuk usaha. Baru setelah itu kami bisa menikmati profitnya bersama dengan warga lokal yang bekerja sama dengan kami.”

 
 

Terkadang, cinta harus diungkapkan dengan impulsif, tanpa banyak syarat. Bagi Cendy, Nisa, dan Shinta, Noesa adalah bentuk cinta mereka untuk berkontribusi bagi seni, budaya, dan alam, tanpa banyak bicara.

Share:

Tags: Success Story,Social Enterpreneurship