Perjalanan Nusa Berdaya dimulai ketika 3 co-founders ingin mengangkat kearifan lokal Nusa Penida berupa produksi rumput laut yang melimpah untuk mengangkat kesejahteraan para petani dan warga Nusa Penida. Meskipun produksi rumput laut di Nusa Penida memiliki jumlah yang fantastis, petani rumput laut justru menjadi salah satu yang termiskin di sana. Permainan para tengkulak yang membeli murah dari para petani dan menjualnya kembali dengan harga tinggi turut memperparah kondisi keuangan para petani.

Nusa Berdaya awalnya berusaha mengeksplorasi berbagai ide bisnis, mulai dari membuat permen dari rumput laut, jual beli rumput laut mentah untuk disuplai ke pabrik pengolahan di Surabaya, trading ikan kerapu hidup serta sabun di Singaraja, Bali Utara, untuk membantu petani dan nelayan lokal. Namun akhirnya, mereka memutuskan untuk membuat produk sabun natural dari rumput laut di Nusa Penida dikarenakan sulit menjangkau pasar yang stabil. Kenyataan bahwa Nusa Penida dipenuhi oleh turis mancanegara dan terdapat hotel di mana-mana pun membantu mereka menemukan market mereka, yaitu para turis mancanegara.

Saat ini, Nusa Berdaya sudah berhasil mengekspor produknya ke beberapa negara di Amerika, Australia, dan Eropa. Bagaimana caranya menyasar pasar internasional? Andriza Syarifudin (Udin), CEO Nusa Berdaya, berbaik hati membagikan pada Anda secara substansial. Ditemui di Badan Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia pada 26 Mei 2017 lalu, Udin memberikan beberapa tips:
 

1. Spesifikkan target market produk social enterprise.

Untuk bisa mengekspor barang, seseorang harus memiliki target pasar yang tepat yaitu orang-orang di luar negeri. Pasar yang dimaksud harus jelas, siapa mereka, berapa rata-rata penghasilan mereka, di mana mereka tinggal, berapa kisaran umur mereka, apa saja yang menurut mereka penting. Nusa Berdaya yang berbasis di Nusa Penida, melihat pasar turis mancanegara sebagai pasar yang sangat menjanjikan, karena jika dibandingkan pasar lokal, mereka lebih tertarik pada produk sabun organik dari alam. Pemahaman ini muncul tidak serta-merta, namun melalui banyak observasi, interaksi, dan tukar pendapat dengan mereka.
 
2. Tentukan value proposition yang tepat

Setelah mengetahui karakteristik pasar yang akan dituju, tentukan value proposition yang tepat untuk menyasar target pasar tersebut. Apa, sih, yang membuat orang lain tertarik membeli produk atau jasa yang ditawarkan?

Dengan pasar turis mancanegara, Nusa Berdaya menentukan 3 value proposition untuk produk mereka, yaitu handmade, natural, dan fair trade. Turis mancanegara sangat menghargai produk-produk buatan tangan tanpa sentuhan mesin. Tak heran, saat Nusa Berdaya sempat mencoba mengukir sabun buatan mereka agar lebih indah, penjualan justru menurun. Hal ini, menurut para turis asing, dipersepsi tidak 100% handmade.

Sejalan dengan apresiasi turis mancanegara terhadap produk-produk handmade dan natural, Nusa Berdaya menjamin semua produk yang dibuat ini natural, tidak mengandung bahan kimia yang bisa berbahaya bagi kulit. Tidak main-main, salah satu co-founder Nusa Berdaya belajar dan mengeksplorasi pembuatan sabun noesasoap secara otodidak selama 4 bulan lamanya. Nusa Berdaya juga terus menerus mengembangkan produknya dengan mengekplorasi scent alam yang paling disukai oleh konsumen.

Nusa Berdaya juga memperkenalkan fair trade sebagai value proposition mereka. Fair trade adalah competitive advantages yang dimiliki oleh Nusa Berdaya dan mungkin tidak banyak dimiliki oleh produsen sabun organik lainnya. Untuk menyebarluaskan praktik fair trade yang mereka lakukan, Nusa Berdaya mengadakan kelas-kelas pembuatan sabun bagi para turis mancanegara sebagai salah satu key activities mereka. Di kelas tersebut, peserta diajak untuk melihat proses pemanenan rumput laut sebagai bahan pembuatan sabun, menunjukkan bagaimana Nusa Berdaya memperlakukan petani rumput laut dengan baik, bagaimana petani dapat meningkat taraf hidupnya melalui kerja bersama dengan Nusa Berdaya, dan bagaimana cara memproduksi sabunnya.
 
3. Cari kanal distribusi sebanyak-banyaknya

Untuk bisa mengekspor, tentu memerlukan dokumen-dokumen penting dan tak jarang biayanya cukup menguras isi dompet. Namun, banyak jalan untuk bisa memasarkan produk ke pasar internasional.

Pertama, berkenalan dengan turis mancanegara dan memperkenalkan produk mereka. Setelah mencoba dan cocok dengan produknya, konsumen di Nusa Penida biasanya akan melakukan repeat order langsung dari negaranya dan kemudian perlahan terciptanya word of mouth produk noesasoap di mancanegara sehingga terbuka peluang B2B dari kalangan entrepreneur/importir yang ada negara tersebut.

Kedua, bekerjasama dengan trader dan  eksportir yang ada di Indonesia. Para trader dan eksportir ini berfokus pada persebaran barang ke luar Indonesia, meskipun mereka tidak memproduksi barang sendiri. Para produsen, seperti Nusa Berdaya, bisa menawarkan produk enterprise mereka untuk dipasarkan ke luar negeri. Tentunya dengan biaya yang dapat dinegosiasikan.

Ketiga, bekerja sama dengan penyedia jasa kargo. Cara ini bisa dilakukan oleh SE yang ingin memasarkan barangnya dengan jumlah yang tidak terlalu besar. SE hanya perlu mencari calon pelanggan yang akan dikirim. Pun saat ini SE bisa mencari calon pelanggan dengan berbagai cara, baik offline maupun online.

 

Terlihat bahwa Nusa Berdaya sangat market-driven. Semua keputusan yang diambil oleh Nusa Berdaya sangat didasarkan oleh kebutuhan pasar yang begitu spesifik. Sudahkah Anda mengenal para konsumen Anda? Cara merengkuh market dari Nusa Berdaya ini menarik untuk Anda pelajari.

Share:

Tags: Success Story,Social Enterpreneurship