Istilah social enterprise sekarang ini marak sekali kita dengar. Mulai banyak yang membuka sebuah social enterprise dan menyebut dirinya sebagai seorang social entrepreneur. Sebenarnya apa sih social enterprise itu? Apa yang mereka lakukan? Mengapa mereka memilih untuk melakukan hal tersebut?

Tidak ada pengertian khusus tentang social enterprise, namun dari berbagai pendapat praktisi usaha sosial dapat disimpulkan bahwa social enterprise adalah suatu cara yang menyeimbangkan aspek bisnis dan aspek sosial dalam satu kesempatan. Social enterprise tidak hanya mencari untung, namun juga memberikan dampak kepada komunitas. Tidak hanya berhubungan dengan konsumen, melainkan juga membangun komunitas. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh Augustine Merriska, Community Impact Director Platform Usaha Sosial (PLUS) di EV Hive The Maja, pada Kamis, 23 Maret 2017 lalu. Setelah penyampaian materi oleh PLUS, diadakan diskusi panel yang menghadirkan Vikra Ijas, CMO Kitabisa.com dan Maral Dipodiputro, CEO dan Co-founder Temu App.


Panel discussion

Introduction to Social Entrepreneurship by Merriska

Ketertarikan terhadap social entrepreneurship di Indonesia semakin luas. Makin banyak orang yang ingin menjadi bagian dari arus ini, dan banyak juga yang bingung bagaimana memulainya. Menggabungkan Kitabisa.com dan Temu App dalam satu panel diskusi bisa memberikan insight untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berikut 4 pertanyaan menarik mengenai bagaimana membentuk social enterprise dari diskusi panel tersebut. Buat kamu yang punya pertanyaan serupa, check these out!

Bagaimana menyeimbangkan profit dan impact dalam Social Enterprise kita?

Vikra dari Kitabisa.com menjawab bahwa dalam social enterprise kita punya double bottomline. Ada komunitas yang kita untungkan, namun secara otomatis kita juga bisa mendapat profit dari kegiatan kita. Maral dari Temu App juga mengatakan hal yang serupa. Semakin banyak komunitas blue collar yang kita untungkan, makin banyak kita mendapat profit dari perusahaan yang kita channel. PLUS menambahkan, entah dimulai dari profit maupun impact, sustainability adalah kunci untuk mempertahankan social enterprise kita. Impact itu why we address the problem and choose the business, profit itu how we do the business. Memutuskan antara dua itu akan sangat bergantung pada latar belakang founder-nya, business model-nya, dan tujuan pendiriannya. Ada beberapa contoh social enterprise yang tidak sehat karena memberatkan pada salah satunya.

Bagaimana menjaga kepercayaan dari penerima manfaat kita?

Temu App tidak pernah menganggap semua orang yang akan disalurkan untuk bekerja melalui Temu App sebagai anak buah. Mereka adalah komunitas yang akan dibangun oleh Temu App, yang memiliki visi memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Selain itu, ada mitra yang membantu Temu App untuk menghubungkan kepada orang yang sedang mencari kerja, namun tetap harus dijaga agar tidak menjanjikan yang berlebih. Sedangkan di Kitabisa, usaha yang dilakukan adalah menginteraksi pihak-pihak yang sebenarnya butuh untuk melakukan kebaikan dengan para beneficiaries dan konten apa yang dilakukannya. Jadi, sebisa mungkin Kitabisa meng-highlight keberhasilan campaign yang dilakukan sehingga orang tidak ragu dengan Kitabisa.

Bagaimana cara menentukan salary di social enterprise?

Bagi Kitabisa prinsipnya adalah “Enough for you to focus on your business.” Ketahui di level mana social enterprise sedang berjalan. Misalnya, jika profit bisa didapat di awal, profit bisa langsung dibagi ke deviden. Namun jika tidak, perumusan salary bisa berdasarkan tingkat kecukupan. Bisa survey atau cari tahu terlebih dahulu berapa gaji yang cukup untuk posisi-posisi yang ada, sehingga tidak perlu sampai kekurangan. Di Temu App, prinsipnya seminimal mungkin kebutuhan pengelola usaha sosial bisa tercukupi, karena kalau tidak nanti mereka justru merasa insecure dan berpengaruh pada kinerja. Di awal, Temu-App memberi secukupnya saja, namun selanjutnya bisa dirumuskan ulang perumusan gajinya. PLUS juga menambahkan hal yang serupa. Bagaimana merumuskan gaji?
Tiga hal ini yang harus diperhatikan: 1) Kenali di stage mana social enterprise berada, 2) Harus mencukupi kebutuhan, 3) Sejauh mana kamu mau berkorban.

Bagaimana mengenalkan business model ke publik pada awalnya? Lalu, bgaimana menggaet tim di awal?

Yang dilakukan Maral dan tim Temu App di awal adalah mendatangi berbagai business event. Datang ke situ untuk menumbuhkan awareness mengenai apa visi yang ingin dibawa. Kemudian, untuk membentuk tim di awal, gaet orang yang memang mau membantu. Ceritakan passion di bisnis yang sedang kamu jalankan. Nanti akan bertemu dengan orang-orang yang satu pemikiran dengan yang sedang kita jalankan, namun jangan lupa untuk selalu menetapkan standar orang seperti apa yang kita cari untuk kerjakan.

Serupa dengan Temu-App, menurut Vikra, social entrepreneurs harus punya cara kreatif untuk mendapatkan perhatian. Jadilah percaya diri saat memperkenalkan aktivitas kita, lalu teruslah bertanya mengenai apa yang bisa menjadi celah improvement untuk Kitabisa. Terus lakukan engagement juga penting bagi keberlangsungan social enterprise.
Bertemu dengan Vikra dan Maral dalam diskusi ini sungguh memberi kesempatan bagi kita untuk mempelajari apa visi mereka dan bagaimana mereka mewujudkan visi menjadi nyata. Penyelesaian masalah sosial ternyata bisa dilakukan dengan smart, dan tentu saja, fun!

Jadi, siap membangun usaha sosialmu sendiri?
Share:

Tags: Social Enterpreneurship